Serangan jantung terhadap pemain sepak bola yang tengah bertanding
kembali terjadi. Tidak lama setelah insiden Muamba, pada hari Kamis 22
Maret 2012 seorang pemain kompetisi semi-pro India meninggal dunia
setelah ambruk karena serangan jantung pada menit ke-73.
Pemain
bernama D. Venkatesh dari klub Bangalore Mars itu meregang nyawa karena
terlambat ditangani. Tak ada ambulans yang bisa membawanya segera ke
rumah sakit.
Yang terjadi pada Muamba dan Venkatesh seakan-akan
mendobrak pepatah abadi bahwa olahraga adalah kegiatan menyehatkan
tubuh. Namun masalahnya, Muamba dan Venkatesh melakukan olahraga dalam
konotasi profesi dan industri. Artinya juga bergantung pada unsur lain
agar tubuh tetap fit.
Dan insiden mereka bukanlah yang pertama.
Di Inggris Raya, Clive Clarke dari Leicester City mendapat serangan
jantung ketika tengah bertanding pada tahun 2007. Clarke selamat dari
kematian, namun harus melupakan karir sepak bolanya.
Pada tahun
2007 pula, pukulan besar bagi sepak bola profesional dunia terjadi kala
pemain muda Spanyol dan Sevilla, Antonio Puerta, meninggal dunia kala
sedang bermain. Dua tahun kemudian, Daniel Jarque dari Espanyol tutup
usia saat tengah melakukan persiapan pra-musim dengan timnya.
Singkatnya,
dalam 10 tahun terakhir, sindrom serangan mematikan (sudden death
syndrome) terus terjadi. Salah satu pemain yang menjadi korban adalah
eks gelandang Lyon dan Manchester City, Marc Vivian Foe, yang tutup usia
pada 2003. Hasil penelitian menunjukkan 93 persen kematian dalam
olahraga disebabkan sindrom tersebut.
Setelah Puerta meninggal,
para pemain di La Liga Spanyol sempat mempertanyakan profesionalisme uji
kesehatan yang dilakukan klub-klub. Kiper Real Madrid dan tim nasional
Spanyol, Iker Casillas, paling keras mempertanyakan hal itu. Mereka
merasa terancam.
Kini klub Spanyol tak mau gegabah. Mereka
melakukan pemeriksaan kesehatan secara detail kepada para pemainnya,
termasuk organ jantung.
Sementara itu, belajar dari insiden
Muamba, FA tengah merancang kewajiban kepada seluruh klub yang terlibat
di kompetisi agar mengadakan pemeriksaan jantung dan organ penting
lainnya terhadap para pemain. Tottenham, misalnya, memanggil dokter
spesialis jantung ke markas klub untuk memeriksa seluruh pemain mereka
sehari setelah insiden Muamba.
Selain FA, sejumlah federasi yang
memiliki kemapanan industri sepak bola juga menunjukkan gelagat untuk
mengintensifkan kewajiban pemeriksaan kesehatan yang dilakukan klub
terhadap pemain. UEFA dan FIFA juga tengah menggodok aturan resminya.
Yang
mereka lakukan adalah dalam rangka menjaga wajah sepak bola tetap
humanis. Pertandingan sepak bola harus tetap kondusif bagi kesehatan
pemain. “Fair play” bukan hanya dalam permainan, tetapi juga dalam tata
kelola, termasuk kesehatan para pemain.
Semoga kejadian yang dialami Muamba dan Venkatesh adalah yang terakhir.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar